[RENUNGAN] BAHAYA MENURUTI HAWA NAFSU CELAKA DUNIA AKHIRAT

[RENUNGAN] BAHAYA MENURUTI HAWA NAFSU CELAKA DUNIA AKHIRAT

BAHAYA MENURUTI HAWA NAFSU

Bahaya menuruti Hawa Nafsu didalam melaksanakan ibadah umroh

Setiap Muslim berkewajiban menjaga harkat dan martabatnya. Harga diri seorang Muslim terletak pada kemampuannya mencegah dirinya dari segala perbuatan yang dapat menjatuhkannya dalam lubang kehinaan dan kehancuran moral.  Termasuk dengan memperturutkan hawa nafsu atau nafsu syahwat.

Menahan nafsu syahwat bukanlah pekerjaan ringan. Ia tumbuh dari dalam diri sendiri. Sejatinya ia adalah musuh tapi realitasnya sangat disukai. Nafsu bukan barang asing. Ia merupakan hasrat yang tumbuh seiring dengan berkembangnya jiwa dan raga manusia. Beratnya lagi, di dalam nafsu ada kenikmatan, keindahan, dan segala yang disenangi manusia.

Ali bin Abi Thalib RA berkata; Ada dua hal yang kutakutkan menimpa kalian, yakni mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu dapat memalingkan dari kebenaran dan panjang angan-angan dapat melupakan akhirat.

Umar bin Khathab RA menambahkan: Hindarkanlah jiwa dari nafsu, karena nafsu akan membawanya kepada kejahatan. Sungguh, kebenaran terasa berat tetapi membawa kepada keselamatan dan kebatilan terasa ringan tetapi membawa kepada kesengsaraan. Meninggalkan dosa lebih baik daripada bertaubat. Banyak memandang dosa lebih baik daripada bertaubat. Banyak memandang bisa membangkitkan nafsu dan nafsu sesaat dapat menimbulkan penyesalan berkepanjangan.

Mengendalikan hawa nafsu, apalagi mengalahkannya bukan pekerjaan ringan dan sederhana, sebab yang menjadi musuh adalah diri kita sendiri. Nafsu adalah kendaraan dan instrument hidup manusia. Lalu bagaimana kita mengalahkan instrument yang vital dan sangat kita butuhkan?

Disini diperlukan jalan tengah, yaitu mentarbiyahnya agar ia mau melakukan berbagai macam kebaikan. Bersamaan dengan itu nafsu harus dikekang agar tidak melampaui batas. Tali kekang yang paling efektif adalah taqwa dan wara (menahan diri).

Ibarat binatang liar, jika mampu menundukkan nafsu, maka binatang tersebut menjadi tunggangan yang dapat mengantarkan kita ke tempat tujuan dengan selamat, aman dan nyaman. Itulah nafsu yang mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang dirahmati oleh Rabbku”. (Yusuf [12]: 53)

Allah SWT memberi pujian dan balasan surga kepada orang yang mampu menahan hawa nafsunya. “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya”. (An-Nazi’at [79]: 40-41)

Menjaga Kemaluan

Banyak penanda orang yang beriman, salah satunya adalah menjaga kemaluannya.

Allah SWT  berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya tiada tercela” (Al-Mukminun [23] 1-6)

Di ayat yang lain, Allah SWT tak sekedar mengabarkan tapi langsung member instruksi. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (An-Nur [24] 30)

Perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan itu tidak hanya ditujukan kepada kaum laki-laki, tapi juga ditujukan kepada kaum perempuan. Bahkan penjelesannya lebih panjang dan lebih detail.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangnnya, dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putranya suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita –wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (An-Nur [24] : 31).

Untuk perempuan Muslimah, instruksi Allah SWT tak sekedar menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, tapi diwajibkan bagi mereka untuk mengenakan pakaian syar’i yang dapat menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan lekaki lain. Syahwat lelaki mudah timbul karena pandangannya. Jika wanita memancingnya dengan pakaian jahiliyah, maka dikhawatirkan terjadinya kemaksiatan dan kerusakan moral.

Jebakan Wanita

Dalam kita “at-Tadzikarah”, Imam al-Qurthubi menceritakan kisah seorang muadzin yang rajin beribadah dan sangat taat kepada Allah SWT. Suatu ketika, seperti biasanya dia naik ke atas menara masjid untuk mengumandangkan adzan. Tiba-tiba matanya tertuju ke rumah seorang perempuan Nashrani yang berada di bawah menara tersebut. Rupanya perempuan cantik itu menawan hatinya. Ia mengurunkan niatnya untuk adzan dan turun menemui gadis tersebut.

Perempuan tersebut menegur si tukang adzan, “Ada urusan apa engkau kesini?” Ia menjawab, “Aku menginginkanmu”. Perempuan itu kembali bertanya, “Untuk apa?” Ia menjawab, “Engkau telah merampas hatiku dan mengambil segenap jiwaku”. Perempuan itu berkata, “Aku tidak ingin menjawabmu dengan main-main.” Sang muadzin menjawab, “Aku ingin menikahimu”. “Bagaimana mungkin, kau seorang Muslim sedangkan aku penganut Nashrani. Ayahku pasti tidak akan mengizinkan aku menikah denganmu”, Laki-laki berkata, “Jika itu syaratnya, aku bersedia mengikuti agamamu”. Perempuan itu berkata, “Jika engkau melakukan hal itu maka aku siap menikah denganmu”.

Singkat cerita, kedua insan tersebut akhirnya menikah dan tinggal di rumah wanita tersebut. Masih di hari yang sama, mantan muadzin ini bermaksud mengambil sesuatu di atas menara masjid. Qadarullah, ketetapan Allah SWT terjadi padanya. Saat menaiki tangga menara ia jatuh terpelanting dan akhirnya meninggal dunia. Ia tidak jadi bersenang-senang dengan perempuan tersebut, padahal ia sudah berstatus murtad (keluar) dari Islam. Ia mati dalam keadaan kafir.

Potensi Surga dari Organ Bahagia

Ditakdirkan berada di tempat yang tersembunyi dengan pertahanan kain berlapis, dipagari syarat sensitif, dikawal tangan dan kaki yang reflek merespon semua pihak yang mengancamnya, itulah kemaluan.

Ia selalu dirahasiakan. Umumnya hanya dibuka saat darurat, itupun juga di tempat yang tersembunyi. Namun demikian, anehnya justru organ itulah yang diwanti-wanti Nabi Muhammad SAW kepada umatnya untuk selalu dijaga.

Kenyataannya, karena salah urus organ ini berperan sebagai pengantar pemiliknya ke neraka. Jawaban Nabi Muhammad SAW menjelaskan hal itu dalam dialognya dengan seorang sahabat.

Abu Hurairah mengisahkan, Rasulullah SAW ditanya tentang hal yang paling banyak menyebabkan masuk surga. Nabi Muhammad SAW menjawab, Ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak yang baik. Ia ditanya tentang hal yang paling banyak menyebabkan masuk nereka. Nabi Muhammad SAW menjawab: Mulut dan kemaluan (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi).

Data perilaku seks remaja di Negara kita yang penduduknya mayoritas Muslim cukup menjadi pendukung mutakhir atas jawaban Nabi Muhammad SAW di atas. Dalam penelitiannya, Komnas Perlindungan Anak (2008) dengan 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar menemukan data yang mengejutkan. Sebanyak 62,7% remaja SMP tidak perawan dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.

Sebagaimana lazimnya penelitian, maka dibaliknya masih menyisakan fakta yang jauh lebih parah, hingga apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW adalah hal mutlak mendapat perhatian. Karena pada kemaluan terdapat gantungan kehormatan, tidak heran Allah SWT memberikan petunjuk yang jelas kepada hambanya yang beriman melalui Nabi Muhammad SAW “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (An-Nur [24]: 30)

Jika diperhatikan dengan seksama, dalam ayat tersebut terdapat dua perintah yang berhubungan erat. Allah SWT tidak sekedar memerintahkan orang mukmin untuk menjaga kehormatannya, tetapi sekaligus tindakan pertama sebagai wasilah demi tercapainya tujuan itu, yaitu menjaga pandangan. Inilah yang potensial mengantar seorang beriman sukses menjaga kemaluan. Organ rahasia ini adalah termasuk alat uji dan pembukti mukmin sejati.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”. (Al-Mukminun [23]: 1-5).

Selain garansi pahala melimpah, sukses menjadi mukmin sejati juga akan diganjar jaminan ampunan dari Sang Pencipta.

Firman Allah SWT : “… laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Ahzab [33] : 35).

Karena itu, tidak heran yang besangkutan juga mendapat jaminan surga dari Rasulullah SAW.  Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barang siapa menjamin buatku untuk menjaga apa yang ada di antara janggut dan kumisnya (mulut) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjaminnya masuk surga”. (Riwayat al-Bukhari)

Khusus bagi wanita, yang mampu menjaga kehormatannya dibebaskan untuk masuk surga dari pintu masuk manapun yang ia suka.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jika seorang wanita melakukan shalat lima waktu, berpuasa bulan wajibnya (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : Masuklah engkau ke surga melalui pintu manapun yang kamu sukai”. (Riwayat Ahmad)

Begitu potensialnya kemaluan untuk menjaga kehormatan atau sebaliknya menistakan pemiliknya. Para sahabat sebagai generasi terbaik manusia sampai-sampai ada yang minta izin kepada Rasululah SAW untuk mengebiri diri. Salah satu sahabat yang izin itu adalah Abdullah bin Mas’ud RA.

Ia menceritakan: Dulu kami berperang bersama Rasulullah SAW dan kami tidak membawa apa – apa (istri). Kami berkata, Apakah sebaiknya kita mengebiri? Maka Nabi Muhammad SAW melarang kami melakukannya kemudian mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan selembar pakaian kemudian ia membacakan ayat kepada kami, “… Janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah [5]: 87). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Beberapa sahabat yang lain juga dicatat dalam riwayat berbeda pernah berniat melakukan hal yang sama, sekira diizinkan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu, seperti Utsman bin Madz’un dan Saad bin Abi Waqqash. Ide ini muncul karena kesadaran diri akan beratnya menjaga kemaluan dan besarnya godaan yang bisa menistakan kehormatan seorang mukmin. Mungkin terasa nikmat sesaat, namun sesunguhnya kerusakan yang ditimbulkan adalah kebinasaan dunia dan akhirat.

Kemaluan memang bukanlah organ besar dan tampak di tubuh manusia. Tetapi perawatan dan penjagaannya sangat menentukan kehormatan dan kebahagiaan seseorang. Ia jaminan atas surga yang selalu dirindukan setiap orang beriman.

Menjaga Kehormatan Diri

Al-Qur’an menceriatkan kisah terbukanya aurat manusia pertama, Nabi Adam AS dan istrinya Hawa. Allah SWT berfirman, “Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga”. (Al-A’raf [7] 22)

Dari ayat di atas dipahami bahwa menutup aurat dan menjaga kehormatan diri adalah fitrah. Respons spontan Nabi Adam dan Hawa ketika auratnya terbuka adalah segera menutupinya. Hal ini karena secara fitrah manusia merasa malu ketika auratnya terbuka. Orang-orang primitif pun juga menutup bagian yang paling tabu untuk dilihat orang lain, meskipun cara mereka berpakaian belum sempurna.

Sebaliknya, ketelanjangan adalah ideologi setan. Setan mengajak manusia kepada sesuatu yang rendah, yang menjatuhkan kehormatan manusia sederajat dengan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi.

Orang-orang beriman adalah orang yang senantiasa menjaga aurat dan kehormatan diri. Adalah Aisyah, istri Rasulullah SAW. Seorang wanita yang merasa malu membuka aurat, walupun di depan orang yang sudah mati dan sudah dikubur.

Setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar wafat dan dimakamkan di dalam rumah Aisyah, ia masuk ke dalamnya dengan melepas kain hijab (karena mereka berdua adalah mahramnya). Namun setelah Umar dimakamkan pula di dalam rumahnya, maka Aisyah tidak pernah masuk ke sana kecuali setelah memakai hijab (karena malu kepada Umar). (Riwayat al-Hakim)

Al-Qur’an juga menceritakan tentang putrid Nabi Syuaib yang malu-malu bertemu Nabi Musa AS. Allah SWT berfirman, “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum ternak kami..” (Al-Qashash [28]: 25).

Sayangnya, hari ini tersaji pemandangan yang terbalik. Manusia ramai-ramai menampakkan apa yang seharusnya ditutup. Menukar kehormatan diri dengan kehinaan dengan imbalan materi yang hanya secuil. Produk apapun, mulai dari produk – produk kecantikan sampai alat-alat berat menggunakan aurat perempuan sebagai pemikat. Mereka diharuskan berjam-jam merias diri, menata rambut, memoles kulit dan daging. Berlenggak-lenggok meminta perhatian orang. Orang-orang lalu mengaguminya, memandang mereka dengan pandangan syahwat yang sama rendahnya.

Waspada Tipu Daya Setan

Setan tahu persis bagaimana menghancurkan manusia. Sejak awal setan sudah punya rencana untuk merusak kehidupan manusia dengan menampakkan auratnya.

Allah SWT berfirman, “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup..” (Al-A’raf [7]: 20)

Inilah awal mula kerusakan. Dari terbukanya aurat, mengundang pandangan syahwat yang dikuasai hawa nafsu. Selanjutnya hilanglah kehormatan diri dan rasa malu. Manusia kemudian berbuat semauanya tanpa ada lagi pengendalian dalam diri.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, jika Dia berkehendak untuk membinasakan (menghancurkan) seorang hamba, maka Dia akan mencabut rasa malu dari hamba tersebut. Jika rasa malu telah tercabut darinya, maka Allah tidak akan mendapati hamba tersebut kecuali sebagai orang yang dimurkai dan dibenci-Nya. Jika ia telah menjadi orang yang dimurkai dan dibenci oleh Allah, maka tercabutlah darinya amanah. Jika sikap amanah telah tercabut darinya, maka Allah tidak akan mendapatinya kecuali sebagi orang yang berkhianat dan pembuat khianat, maka akan tercabutlah darinya kasih sayang (rahmat) Allah. Jika kasih sayang Allah telah dicabut darinya, maka ia tidak lain adalah orang yang terkutuk dan terlaknat. Dan jika allah telah menetapkannya sebagai orang  yang terkutut, maka tercabutlah darinya perlindungan Islam.” (Riwayat Ibnu Majah)

Muliakan Dirimu Sebagaimana Allah Memuliakanmu

Allah SWT berkehendak menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia. Manusia diberi kesempurnaan jasmani dan rohani. Diciptakan untuknya pakaian yang indah untuk menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Ditanamkan ke dalam jiwanya keimanan dan ketakwaan. Dengan itulah manusia lebih mulia dari makhluk lainnya yang pernah diciptakan.

Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam (umat manusia), sesunggunya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (selalu bertakwa kepada Allah) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagaian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’arf [7]: 26-27)

Begitulah Allah SWT menghormati dan menghargai manusia. Tetapi kadang kala manusia tidak bisa memuliakan dirinya sendiri. Bahkan merendahkan diri dengan cara hidup seperti binatang atau lebih hina lagi.

Ada apa dengan manusia hari ini? Betapa mirisnya kita mendengar berita seorang gadis yang melelang kehormatannya dengan beberapa lembar rupiah. Betapa jauhnya setan telah menggelincirkan manusia. Betapa hebatnya hawa nafsu berkuasa menjerumuskan manusia dalam kehinaan. Jika Allah SWt telah memuliakan manusia, mengapa manusia menghinakan diri mereka sendiri?

Jangan Mendekati Zina

Allah SWT menyifati orang-orang beriman sebagai orang yang senantiasa menajga kemaluannya dari hal-hal yang dilarang. Allah SWt juga telah menetapkan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Begitu banyak penghalang diciptakan agar manusia tidak melanggar batas-batas itu.

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesunguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra [17]: 32}

Diperintahkan kepada kita menutup aurat, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menghindari khalwat (berduaan) dan ikhtilat (bercampur baur) dengan orang yang bukan mahramnya, dan sebagainya. Itu semua adalah pintu bagi setan untuk masuk ke dalam jiwa manusia dan menggelincirkanya.

Jangan mendekati zina. Begitu Allah SWT sudah memperingatkan. Betapa berbahanya jika peringatan-peringatan ini dilanggar. Ketika satu ayat saja dilanggar berbagai macam kerusakan menyebar begitu cepat dan menghancurkan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah SWT yang mampu mengembalikan manusia pada kehidupan yang beradab dan mulia.

Wallahu a’lam bish shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *